Selasa, 01 Oktober 2013

Menerapkan konsep berpikir kritis dalam keperawatan


Konsep berpikir kritis dalam keperawatan.
a. Pengertian berpikir kritis.
Berpikir kritis adalah proses kognitif yang aktif dan terorganisasi yang digunakan untuk mengetahui pikiran seseorang dan pemikiran terhadap orang lain (Chaffe, 2002). Berpikir kritis tidak hanya memerlukan  kemampuan kognitif, tetapi juga kebiasaan sesorang untuk bertanya, mempunyai hubungan yang baik, jujur, dan selalu mau untuk berpikir jernih tentang suatu masalah (Facione,1990). Jika diterapkan pada keperawatan, maka inti dari berpikir kritis menunjukan proses pengambilan keputusan yang klinis yang kompleks. Perawat yang menerapkan pemikiran kritis dalam bekerja akan fokus terhadap penyelesaian masalah dan membuat keputusan, serta tidak akan membuat keputusan yang terburu – buru ataupun ceroboh.
b.   Berpikir dalam proses belajar.
Belajar merupakan proses sepanjang hidup. Perkembangan intelektual dan emosional kita meliputi pembelajaran terhadap pengetahuan baru dan memperbaiki kemampuan kita  untuk berpikir, menyelesaikan masalah, serta membuat keputusan. Untuk belajar, kita harus bersikap fleksibel dan selalu terbuka pada semuaa informasi baru. Ilmu keperawatan berkembang sangat cepat dan akan selalu ada informasi yang baru dapat diterapkan dalam praktik. Makin banyak pengalaman dan penerapan pengetahuan yang kita pelajari akan membuat kita menjadi lebih baik dalam membuat asumsi, mengemukakan ide, dan membuat kesimpulan.
c.    Model berpikir kritis.
Komponen pertama dari model pemikiran kritis adalah pengetahuan dasar spesifik perawat. Pengetahuan ini bervariasi bergantung pada pengalaman pendidik, termasuk pendidikan dasar keperawatan, khusus pendidikan berkelanjutan, dan kuliah tambahan. Sebagai tambahan dibutuhkan inisiatif perawat untuk membaca literatur keperawatan sehingga dapat mengikuti perkembangan terahirdalam ilmu keperawatan. Sebagai perawat pengetahuan dasar anda meliputi informasi dan teori keperawatan. Perawat mengunakan pengetaahuan dasar mereka dengan jalan yang berbeda dengan disiplin ilmu kesehatan yang lain karena mereka memikirkan, masalah klien secara holistic. Sebagai contoh pengetahuan luar seorang perawat akan memperhatikan segi fisik, psikologi, moral, etik, dan budaya dalam perawat seorang klien.
d.   Berpikir kritis dalam keperawatan.
Sebagai perawat, Anda akan menghadapi berbagai macam situasi klinis yang berhubungan klien, anggotakeluarga, staf pelayanan kesehatan, dan lain-lain. Penting untuk berfikir cerdas dalam setiap situasi. Untuk berfikir cerdas, Anda harus mengembangkan cara berfikir kritisdalam meghadapisetiap masalah dan pengalaman baru yang menyangkut klien degan cara berfikiran terbuka, kreatif, percaya diri, dan bijaksana. Jika klien mengeluhkan gejala yang baru, meminta Anda untuk menenangkan mereka, atau meminta suatu tindakan, maka diperlukan pemikiran krtitis dan pengambilan keputusan yang tepat, sehingga klien sebisa mungkin mendapatkan perawatan yang terbaik. Berpikir kritis bukan merupakan hal yang udah atau proses linear yang dapat dipelajari dalam satu malam, melainkan proses yang harus diperoleh melalui pengalaman, komitmen, dan rasa ingin tahu yang besar.
Menganalisis sejarah keperawatan.
 Sejarah keperawatan nasional dan international.
a. Perkembangan Keperawatan Di Dunia.

Secara naluriah dapat dikatakan bahwa keperawatan lahir bersamaan dengan penciptaan manusia yaitu Adam dan Hawa. Keberadaanya tidak pernah di pungkiri. Oleh karena itu perkembangan keperawatan, termasu keperawatan yang kita ketahui saat ini tidak dapat di pisahkan dan sangat di pengaruhi oleh perkembangan struktur dan kemajuan peradaban manusia.
b. Perkembangan Keperawatan Di Inggris.

Perkembangan keperawatan di Inggris sangat penting untuk kita pahami, karena Inggris melalui Florence Nightingle telah membuka jalan bagi kemajuan dan perkembangan keperawatan yang kemudian diikuti oleh negara-negara lain. Florence Nightingle, lahir dari keluarga kaya dan terhormat pada tahun 1820 di Flronce (Italia). Setahun setelah kelahirannya, keluarga Florence kembali ke Inggris. Di Inggris Florence mendapatkan pendidikan sekolah yang baik sehingga ia mampu menguasai bahasa Perancis, Jerman, dan Italia. Pada usia 31 tahun Florence mengikuti kursus pendidikan perawat di Keiserwerth (Italia) dan Liefdezuster di Paris, dan setelah pendidikan ia kembali ke Inggris.  Kontribusi Florence Nightingle bagi perkembangan keperawatan adalah menegaskan bahwa nutrisi merupakan satu bagian penting [dari asuhan keperawatan, meyakinkan bahwa okupasional dan rekreasi merupakan suatu terapi bagi orang sakit, mengidentifikasi kebutuhan personal klien dan peran perawat untuk memenuhinya, menetapkan standar manajemen rumah sakit, mengembangkan suatu standar okupasi bagi klien wanita, mengembangkan pendidikan keperawatan, menetapkan 2 (dua) komponen keperawatan, yaitu: kesehatan dan penyakit. Meyakinkan bahwa keperawatan berdiri sendiri dan berbeda dan berbeda dengan profesi kedokteran dan menekankan kebutuhan pendidikan berlanjut bagi perawat.
c. Perkembangan Sejarah Keperawatan Di Indonesia.

- Zaman  Kuno.
Seperti juga di Negara-negara lainnya keperawatan diserahkan kepada perempuan yang merawat keluarganya Penyakit dianggap perbuatan setan yaitu dukun, cara pengobatan dengan menggunakan daun-daunan
-  Zaman penjajahan Belanda.

Pertama, masa sebelum kemerdekaan, pada masa itu negara Indonesia masih dalam penjajahan Belanda. Perawat Indonesia disebut sbg verpleger dengan dibantu oleh zieken oppaser sebagai penjaga orang sakit, perawat tersebut pertama kali bekerja di rumah sakit Binnen Hospital yang terletak di Jakarta pada tahun 1799 yang ditugaskan untuk memelihara kesehatan staf dan tentara Belanda. Orang-orang Belanda datang ke Indonesia pertama kali dengan maksud untuk berdagang. Dalam usaha perdagangannya itu di bentuklah VOC. Sehubungan dengan adanya staf dan tentara maka dua usaha kesehatan. Untuk itu didirikanlah rumah sakit yang pertama yang bernama " Binnen Hospital " didirikan pada tahun 1641 bertempat di Batavia ( sekarang Jakarta) Tenaga perawatannya diambil dari penduduk pribumi ( Bumi Putera ) yang diberi nama Zieken oppaser ( penjaga orang sakit) Rumah sakit ini dibawah pengawasan dokter militer.
2.1.2 Keperawatan sebagai profesi.
a. ciri – ciri profesi.
Menurut Shortridge adalah sebagai berikut :
a.    Berorientasi pada pelayanan masyarakat
b.    Pelayanan keperawatan yang diberikan di dasarkan pada ilmu pengetahuan
c.    Adanya otonomi
d.   Memiliki kode etik
Menurut prof. Ma’rifin Husin adalah sebagai berikut :
a.    Memberi pelayanan atau asuhan dan melakukan penelitian sesuai dengan kaidah ilmu dan keterampilan serta kode etik keperawatan
b.    Telah lulus dari pendidikan pada jenjang perguruan tinggi sehingga diharapkan mampu untuk bersikap profesional, mempunyai pengetahuan dan keterampilan profesional, memberi pelayanan asuhan keperawatan profesional, dan menggunakan etika keperawatan dalam memberi pelayanan
C. Mengelola ruang lingkup keperawatan berikut sesuai dengan kaidah suatu profesi dalam bidang keseaahatan, yaitu :
1.    Sistem pelayanan atau asuhan keperawatan.
2.    Pendidikan atau pelatihan keperawatan yang berjenjang dan berlanjut.
3.    Perumusan standar keperawatan ( asuhan keperawatan, pendidikan keperawatn registrasi/legislasi ).
4.    Melakukan riset keperawatan oleh perawat pelaksana secara terencana dan terarah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Secara singkat keperawatan sebagai suatu profesi setidaknya harus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
Ø Mempunyai ilmu pengetahuan dan dikembangkan secara terus menerus melalui penelitian
Ø Memiliki standar pendidikan
Ø Pelayanan dan praktek keperawatan
Ø Memiliki otonomi dan organisasi profesi
Ø Mempunyai kode etik profesi

2.1.2 Profil Keperawatan Profesional.
Profil keperawatan Profesional adalah gambaran dan penampilan menyeluruh perawat dalam melakukan aktifitas keperawatan sesuai kode etik keperawatan.
a. Peran pelaksana
dalam melaksanakan peran ini perawat bertindak sebagai comforter, protector dan advocat, communicator serta rehabilitator.
     Comforter : perawat berusaha memberi kenyamanan dan rasa aman pada klien.
     Protector dan advocat : kemampuan perawat melindungi dan menjamin agar hak dan kewajiban klien terlaksana dengan seimbang dalam memperoleh pelayanan kesehatan.
     Communicator : perawat bertindak sebagai mediator antara klien dengan anggota tim kesehatan lainnya, berkitan pula dengan keneradaan perawat mendampingi klien sebagai pemberi ashuan keperawatan selama 24 jam.

b. Peran sebagai pendidik.
perawat berperan mendidik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, serta tenaga keperawatan atau tenaga kesehatan yang berada di bawah tanggung jawabnya. Peran ini dapat berupa penyuluhan kesehatan kepada klien (individu, kluarga, kelompok atau masyarakat) maupun bentuk desiminasi ilmu kepada peserta didik keperwatan, antara sesama perawat atau tenag kesehatan lain.
c. Peran sebagai pengelola.
berperan dalam memantau dan menjamin kualitas asuhan/pelayan keperawatan serta mengorganisasi dan mengendalikan sistem pelayanan keperawatan.
d. Peran sebagai peneliti.
Berperan dalam mengidentifikasi masalah penelitian, menerapkan prinsif dan metode penelitian serta memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan mutu asuhan atau pelayanan dan pendidikan keperawatan.

Menganalisis prinsip – prinsip pendekatan secara holistic dalam konteks keperawatan.
Konsep dan teori keperawatan.
a. Teori keperawatan.
Teori keperawatan didefenisikan oleh Steven (1984), sebagai usaha untuk menguraikan dan menjelaskan berbagai fenomena dalam keperawatan (dikutip dari Taylor. C., 1989). Teori keperawatan beerperan dalam membedakan keperawatan dengan disiplin ilmu lain dan bertujuan untuk mengambarkan, menjelaskan, memperkirakan dan mengontrol hasil asuhan dan pelayanan perawatan yang dilakukan. Menurut Newman (1979), ada tiga cara pendekatan dalam pengembangan dan pembentukan teori keperawatan yaiti meminjam teori-teori dari disiplin ilmu lain yang relevan dengan tujuan untuk mengintegrasikan teori-teori ini kedalam ilmu keperawatan, menganalisa situasi praktik keperawatan dalam rangka mencari konsep yang berkaitan dengan praktik keperawatan,  seerta menciptakan suatu kerangka konsep yang memungkinkan pengembangan teori keperawatan.Tujuan pengembangan teori keperawatan adalah menumbuh kembangkan pengetahuan yang diharapkan dapat membantu dan mengembangkan praktek keperawatan dan pendidikan keperawatan.
b. Karakteristik dasar teori keperawatan.
Meskipun banyak penulis yang membahas teori keperawatan, tulisan Torres (1985) dan Chinn dan Jacob (1983), secara jelas menegaskan karakteristik dasar teori keperawatan. Menurut mereka, ada lima karakteristik dasr teori keperawatan yaitu:
       Pertama, teori keperawatan mengidentifikasi dan didefinisikan sebagai hubungan yang spesifik dari konsep keperawatan seperti hubungan antara konsep manusia, konseo sehat-sakit, keperawatan dan konsep lingkungan.
Kedua, teori keperawatan harus bersifat ilmiah. Artinya teori keperawatan digunakan dengan alasan atau rasional yang jelas dan dikembangkan dengan menggunakan cara berpikir yang logis.
Ketiga, teori keperawatan bersipat sederhana dan umum. Artinya teori keperawatan dapat digunakan pada masalah yang sederhana maupun masalah kesehatan yang kompleks sesuai dengan situasi praktik keperawatan.
Keempat, teori keperawatan berperan dalam memperkaya body of knowledge keperawatan yang dilakukan melalui penilitian.
Kelima, teori keperawatan menjadi pedoman dan berperan dalam memperbaiki kualitas praktik keperawatan.
c. Konsep dan teori dalam keperawatan.
Teori keperawatan pada dasarnya terdiri atas empat konsep yang berpengaruh dan menentukan kualitas praktik keperawatan yaitu konsep manusia, keperawatan, konsep sehat-sakit dan konsep lingkungan. Meskipun keempat konsep digunakan pada setiap teori keperawatan, akan tetapi pengertian dan hubungan antara konsep ini berbeda antara teori yang satu dengan teori yang lain. Berikut ini diuraikan beberapa teori keperawatan.
-       Sister Calista Roy: Model Adaptasi Roy
Pada tahun 1964 model ini banyak di gunakan sebagai falsafah dasar dan model konsep dalam pendidikan keperawatan. Model adaptasi roy adalah system model yang esensial dalam keperawatan. Asumsi dasar model ini adalah:
1.    Individu adalah mahluk biopsikososial sebagai satu kesatuan yang utuh. Seseorang dikatakan sehat jika mampu berfungsi untuk memenuhi kebutuhan biologis, psikologis dan social.
2.    Setiap orang selalu menggunakan koping, baik yang bersifat positif maupun negative untuk dapat beradaptasi. Kemampuan beradaptasi seseorang dipengaruhi oleh tiga komponen yaitu penyebab utama terjadinya perubahan, kondisi dan situasi yang ada serta keyakinandan pengalaman dalam beradaptasi.
3.    Setiap individu berespons terhadap kubutuhan fisiologis, kebutuhan akan konsep diri yang positif, kemampuan untuk hidup mandiri atau kemandirian serta kebutuhan akan kemampuan melakukan peran  dan fungsi secara optimal untuk memelihara intergritas diri.
4.    Individu selalu berada pada rentang sehat sakit, yang berhubungan erat  dengan keefektifan koping yang dilakukan untuk memelihara kemampuan beradaptasi.

Menurut roy, respons yang menyebabkan penurunan integritas tubuh menimbulkan adanya suatu kebutuhan dan menyebabkan individu berespons terhadap kebutuhan tersebut melalui upaya atau perilaku tertentu. Menurutnya, kebutuhan fisiologis meliputi oksigenisasi dan sirkulasi, keseimbangan cairan dan elektrolit, makanan , tidur dan istirahat, pengaturan suhu, hormonal dan fungsi sensoris. Kebutuhan akan konsep diri yang positif berfokus pada persepsi diri yang meliputi kepribadian, norma, etika dan keyakinan seseorang. Kemandirian lebih di fokuskan pada kebutuhan dan kemampuan melakukan interaksi social termasuk kebutuhan akan dukungan orang lain. Peran dan fungsi optimal lebih difokuskan pada perilaku individu dalam menjalankan peran dan fungsi yang diembannya.
Singkatnya, Roy menegaskan bahwa individu adalah mahluk biopsikososial sebagai satu kesatuan utuh yang memiliki mekanisme koping untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Individu selalu berinteraksi secara konstan atau selalu beradaftif terhadap perubahan lingkungan. Roy mengidentifikasi lingkungan sebagai semua yang ada disekeliling kita dan berpengaruh terhadap perkembangan manusia. Sehat adalah suatu keadaan atau proses dalam menjaga integritas diri. Menurutnya, peran perawat adalah membantu pasien beradaptasi terhadap perubahan yang ada.
-       Teori Martha E. Roger
Teori Roger didasarkan pada pengetahuan tentang asal usul manusia dan alam semesta seperti antropologi, sosiologi, astronomi, agama, filosofi, perkembangan sejarah dan mitologi. Teori ini berfokus pada proses kehidupan manusia. Menurutnya kehidupan seseorang dipengaruhi alam sebagai lingkungan hidup manusia dan poola pertumbuhan dan perkembangan seseorang.
Asumsi dasar teori roger tentang manusia adalah:
1.    Manusia adalah kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain.
2.    Manusia berinteraksi langsung  dengan lingkungan di sekelilingnya.
3.    Kehidupan setiap manusia adalah sesuatu yang unik. Jalan hidup seseorang berbeda dengan orang lain.
4.    Perkembangan manusia dapat di nilai dari tingkah lakunya.
5.    Manusia diciptakan dengan karakteristik dan keunikan tersendiri. Misalnya dalam hal sifat dan emosi.
Secara singkat disimpulkan bahwa teori Roger berfokus pada manusia sebagai satu kesatuan yang utuh dalam siklus kehidupannya. Menurutnya, lingkungan adalah segala hal yang berada di luar diri individu.
-        Teori Dorothy E. Johnson
Dorothy E. Johnson meyakini bahwa asuhan keperawatan dilakukan untuk membantu individu memfasilitasi tingkah laku yang efektif dan efesien untuk mencegah timbulnya penyakit. Manusia adalah mahluk yang utuh dan terdiri dari dua system yaitu system biologi dan tingkah laku tertentu. Lingkungan termasuk masyarakat adalah system eksternal yang berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Seseorang dikatakan sehat jika mampu berespons adaptif baik pisik, mental, emosi, dan social terhadap lingkungan internal dan eksternal dengan harapan dapat memelihara kesehatannya. Asuhan keperawatan dilakukan untuk membantu keseimbangan individu terutama koping atau cara pemecahan masalah yang dilakukan ketika ia sakit.
-       Teori Dorothea E. Orem
Menurut orem, asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap orang mempunyai kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu individu memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraannya. Oleh karena itu teori ini dikenal sebagai self Care/Self care Defisit. Ada tiga prinsip dalam perawatan diri sendiri atau perawatan mandiri.
1.    Perawatan mandiri yang dilakukan bersifat holistic meliputi kebutuhan oksigen, air, makanan, eliminasi, aktifitas dan istirahat, mencegah trauma serta kebutuhan hidup lainya.
2.    Perawatan mandiri yang dilakukan harus sesuai dengan tumbuh kembangnya manusia.
3.    Perawatan mandiri dilakukan karena adanya masalah kesehatan atau penyakit untuk pencegahan dan peningkatan kesehatan.
Asuhan keperawatan mandiri dilakukan dengan memperhatikan tingkat ketergantungan atau kebutuhan dan kemampuan pasien. Oleh karena itu terdapat tiga tingkatan dalam asuhan keperawatan mandiri.
1.    Perawat memberi perawatan total ketika pertama kali asuhan keperawatan dilakukan karena tingkat ketergantungan pasien yang tinggi.
2.    Perawat dan pasien saling berkolaborasi dalam melakukan tindakan keperawatan.
3.    Pasien merawat diri sendiri dengan bimbingan perawat.

-       Model Betty Neuman
Model neuman berfokus pada individu dan respons atau reaksi individu terhadap stress termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi dan kemampuan adapts pasien. Menurut neuman asuhan keperawatan dilakukan untuk mencegah atau mengurangi reaksi tubuh akibat adanya stressor. Peran ini disebut pencegahan penyakit yang terdiri dari pencegahan primer, sekunder,dan tersier. Pencegahan primer meliputi tindakan keperawatan untuk mengidentifikasi adanya stressor, mencegah terjadinya reaksi tubuh karena adanya stressor serta mendukung koping pasien yang konstruktif. Pencegahan sekunder seperti tindakan keperawatan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala penyakit atau reaksi tubuh lainnya karena adanya stressor. Sedangkan pencagahan tersier meliputi pengobatan rutin dan teratur serta pencegahan kerusakan lebih lanjut atau komplikasi dari suatu penyakit.
-       Kerangka Konsep Imogene M King
Kerangka ini di kenal sebagai kerangka system terbuka. Asumsi yang mendasari kerangka ini adalah:
1.    Asuhan keperawatan berfokus pada manusia termasuk berbagai hal yang mempengaruhi kesehatan seseorang.
2.    Tujuan asuhan keperawatan adalah kesehatan bagi individu, keloompok dan masyarakat.
3.    Manusia selalu berinteraksi secara konstan terhadap lingkungan.

Menurut King tujuan pemberian asuhan keperawatan dapat tercapai jika perawat dan pasien saling bekerjasama dalam mengidentifikasi masalah serta menetapkan tujuan bersama yang hendak dicapai.
-       Teori Myra E Levine
Teori Levine berfokus pada interaksi manusia. Asumsi dasar Teori Levin adalah:
1.    Pasien membutuhhkan pelayanan keperawatan atau kesehatan jika mempunyai masalah kesehatan.
2.    Perawat bertanggung jawab untuk mengenali respons/reaksi dan perubahan tingkah laku serta perubahan fungsi tubuh pasien. Respons pasieen terjadi ketika ia mencoba beradaptasi dengan perubuhan lingkungan atau suatu penyakit. Bentuk respons tersebut dapat bearupa khetakutan, stress, inflamasi dan respons panca indra.
3.    Fungsi perawat adalah melakukan intervensi keperawatan serta membina hubungan terapeutik. Intervensi keperawatan bertujuan untuk membantu meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit serta memperbaiki status kesehatan.
2.3.2 Paradigma keperawatan.
a. Konsep Manusia.
Manusia adalah biopsikososial dan spritual yang utuh, dalm arti merupakan satu kesatuan utuh dari aspek jasmani dan rohani dan unik karena mempuyai berbagai macam kebutuhan sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Manusia selalu berusaha untuk memahami kebutuhannya melalui berbagai upaya antara lain dengan selalu belajar dan mengembangkan sumber-sumber yang diperlukan sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Pandangan tentang manusia dipengerahi oleh falsafah dan kebudayaan suatu bangsa. Contoh bangsa rusia terutama penduduk asli dan tradisonal tidak menganut suatu agama (atheisme ) Sebagai sasaran pelayanan atau asuhan keperawatan dan pratek keperawatan, manusia adalah klien yang dibedakan menjadi individu,keluarga, dan masyarakat.
b. Individu sebagai klien.
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari aspek biologi, psikologi, sosial, dan spiritual. Peran perawat kepada induvidu sebagai klien, pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya mencakup kebutuhan biologi, sosial, psikologi dan spiritual karena adanya kelemahan pisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, kurang kemauan menuju kemandirian pasien.    
c. konsep sehat sakit.
Rentang ini merupakan suatu alat ukur dalam menilai status kesehatan yang bersifat dinamis dan selalu berubah dalam setiap waktu. Melalui rentang ini dapat diketahui batasan perawat dalam melakukan praktek keperawatan dengan jelas.
-       Rentang Sehat
Batasan sehat itu dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental, dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947).


-       Tahapan Proses Sakit
1)   Tahap gejala
2)   Tahap asumsi terhadap penyakit
3)   Tahap kontak dengan pelayanan kesehatan
4)   Tahap ketergantungan
5)   Tahap penyembuhan
-       Dampak Sakit
1)   Terjadi perubahan peran pada keluarga
2)   Terjadinya gangguan psikologis
3)   Masalah keuangan
4)   Kesepian akibat perpisahan
5)   Terjadinya perubahan kebiasaan sosial
6)   Terganggunya privasi seseorang
7)   Otonomi
8)   Terjadinya perubahan sosial
-       Perilaku Pada Orang Sakit
1)   Adanya perasaan ketakutan
2)   Menarik diri
3)   Egosentris
4)   Sensitif terhadap persoalan kecil
5)   Reaksi emosional tinggi
6)   Perubahan persepsi
d. konsep lingkungan.
Lingkungan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah daerah ( kawasan dsb) yang termasuk didalamnya. lingkungan adalah faktor eksternal yang berpengaruh terhadap perkembangan manusia dan mencakup antara lain lingkungan sosial, status ekonomi dan kesehatan. Konsep tentang lingkungan dalam paradigma keperawatan difokuskan pada lingkungan masyarakat yaitu lingkungan fisik, psikologis, sosial budaya dan spritual.
1)   Lingkungan Fisik yang dimaksud adalah segala bentuk lingkungan secara fisik yang dapat mempengaruhi perubahan status kesehatan, contohnya adanya daerah-daerah wabah, lingkungan kotor, pembuangan air limbah, sampah dan lain-lain.  
2)   Lingkungan Psikologis artinya keadaan yang menjdikan terganggunya psikologis seseorang seperti lingkungan yang kurang aman, yang mengakibatkan kecemasan dan ketakutan akan bahaya yang ditimbulkan.
3)   Lingkungan Sosial budaya dan spritual dalam hal ini adalah masyarakat luas serta budaya yang ada juga dapat mempergaruhi status kesehatan seseorang serta adanya kehidupan, spritual juga mempengaruhi perkembangan seseorang dalam kehidupan beragama serta meningkatkan keyakinan.
Untuk memahami hubungan lingkungan dengan kesehatan masyarakat (individu, keluarga, kelompok, dan komunitas) dapat digunakan model segitiga agen-hospes-lingkungan atau agent-host-enviroment triangel model yang di kemukakan oleh Leavell 1965. ketiga komponen saling berhubungan dan dapat berpengaruh terhadap status kesehatan penduduk
Model ini dapat digunakan untuk memprediksi atau memperkirakan penyakit atau faktor yang beresiko tinggi menyebabkan terjadinya masalah kesehatan sehingga membantu perawat meningkatkan kesehatan dam mncegahnya timbul penyakit serta memelihara kesehatan masyarakat.
-       Model Leavell meliputi : agen, hospes dan lingkungan
1.    Agen adalah suatu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit. Seperti faktor biologi, kimiawi, fisik, mekanik atau psikologis ( kuman penyakit seperti bakteri, virus, jamur, dan cacing). Senyawa kimia  yang menyebabkan polusi udara dan air, lingkungan kerja yang berpontensi menimbulkan kecelakaan kerja, serta stres yang berkepanjangan.
2. Hospes/ Manusia adalah mahluk hidup yaitu manusia, hewan yang dapat terinfeksi atau dipengaruhi oleh agen. Misalnya balita dan anak usia berisiko tinggi terifeksi cacing
3. Lingkungan adalah faktor eksternal yang mempengaruhi kesehatan seperti lingkungan perumahan kumuh, polusi udara, air dan udara; lingkungan kerja yang tidak nyaman; tingkat sosial ekonomi yang rendah; pendidikan masyarakat yang rendah; terbatasnya jumlah fasilitas pelayanan kesehatan; letak fasilitas pelayanan kesehatan yang jauh dari pemukiman penduduk dan sebagainya.
e. teori System.
sistem secara umum dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
1)   Sistem sebagai suatu wujud
Apabila bagian-bagian yang terhimpun dalam sistem tersebut membentuk suatu wujud yang ciri-cirinya dapat dideskripsikan dengan jelas. Sistem wujud dapat di bedakan atas dua macam yaitu :
a. Sistem sebagai suatu wujud yang konkret
b. Sistem sebagai suatu wujud yang abstrak
2)   Sistem sebagai suatu metode
Apabila bagian-bagian yang terhimpun dalam sistem tersebut membentuk suatu metode yang dapat digunakan sebagai alat dalam melakukan pekerjaan administrasi.
-       Ciri-ciri sistem
Menurut Elias M. Awad (1979)
Sistem bukanlah sesuatu yang berada diruanghampa melainkan selalu berinteraksi dengan lingkungan. Bergantung pada pengaruh interaksi dengan lingkungan tersebut sistem di bedakan atas dua maacam yaitu :
    a.     Sistem bersifat terbuka
    b.     Sistem bersifat tertutup
-       Unsur-unsur sistem
sistem terbentuk atas bagian atau elemen yang saling berhubungan dan mempengaruhi.
1)    Masukan (input)  adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan yang diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut.
2)    Proses (proces) adalah kumpulan bagian yang terdapat dalam sistem dan yang berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan.
3)    Keluaran (output) adalah kumpulan bagian yang dihasilkan dari berlangsungnya proses sistem
4)    Umpan balik (feed back) adalah kumpulan bagian yang merupakan keluaran dari sistem sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut.
5)    Dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem
6)    Lingkungan (environment) adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola oleh sistem, tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap sistem.

Sebuah sistem merupakan kumpulan dari berbagai komponen. Komponen tersebut saling berhubungan dan merupakan bagian dari suatu tujuan umum untuk membentuk satu kesatuan. Ada dua jenis sistem, yaitu terbuka dan tertutup. Sistem terbuka, seperti organ tubuh manusia atau suatu proses seperti proses keperawatan, interaksi dengan lingkungan, serta perubahan antara sistem dan lingkungan. Sistem tertutup, seperti reaksi kimia dalam suatu tabung uji tidak berhubungan dengan lingkungan. Layaknya semua sistem, proses keperawatan mempunyai tujuan khusus. Tujuan proses keperawatan adalah ubtuk mengatur dan menyampaikan pendekatan individual kepada asuhan keperawatan.


Sebagai suatu sistem, proses keperawatan mempunyai komponen-komponen, berikut :
1)   Masukan
     masukan dalam proses keperawatan adalah data atau informasi yang berasal dari pengkajian klien (misalnya bagaimana klien berhubungan dengan lingkungan dan fungsi fisiologis klien).
2)   Hasil
      hasil merupakan produk akhir dari sistem dan dalam hal proses keperawatan adalah dimana status kesehatan klien mengalami kemajuan atau tetap stabil sebagai hasil asuhan keperawatan.
3)   Umpan balik
Umpan balik berperan untuk memberikan informasi sebuah sistem tentang bagaimana sistem berfungsi. Sebagai contoh, dalam proses keperawatan hasil menggambarkan respons klien terhadap intervensi keperawatan.
4)   Isi
Isi adalah produk dan informasi yang berasal dari sistem. Selain itu, penggunaan proses keperawatan sebagai sampel, isi merupakan informasi tentang pelayanan keperawatan untuk klien dengan masalah kesehatan tertentu. Sebagai contoh, klien dengan gangguan mobilitas memerlukan kebutuhan dan intervensi perawatan kulit ( misalnya higienis dan pengaturan perubahan posisi tubuh) yang dapat mengurangi resiko terjadinya ulkus akibat tekanan.
Beberapa teori keperawatan menggunakan sistem teori sebagai dasar. Sebagai contoh. Neuman (1995) menggambarkan sebuah model manusia keseluruhan dan pendekatan sistem terbuka. Sebagai sistem terbuka, manusia berhubungan dengan lingkungan. Lingkungan eksternal maupun internal, dan interaksi manusia terhadap tekanan lingkungan, dapat mempengaruhi kesejahteraan klien.
f. konsep Berubah.
Banyak definisi pakar tentang berubah , dua diantaranya yaitu :
1)   Berubah merupakan kegiatan atau proses yang membuat sesuatu atau seseorang berbeda dengan keadaan sebelumnya (Atkinson,1987)
2)   Berubah merupakan proses yang menyebabkan perubahan pola perilaku individu atau institusi (Brooten,1978)
Ada empat tingkat perubahan yang perlu diketahui yaitu pengetahuan, sikap, perilaku, individual, dan perilaku kelompok. Setelah suatu masalah dianalisa, tentang kekuatannya.  Maka pemahaman tentang tingkat-tingkat perubahan dan siklus perubahan akan dapat berguna. Hersey dan Blanchard (1977) menyebutkan dan mendiskusikan empat tingkatan perubahan.
1)   Perubahan pertama dalam pengetahuan cenderung merupakan perubahan yang paling mudah dibuat karena bisa merupakan akibat dari membaca buku, atau mendengarkan dosen. Sedangkan perubahan sikap biasanya digerakkan oleh emosi dengan cara yang positif dan atau negatif. Karenanya perubahan sikap akan lebih sulit dibandingkan dengan perubahan pengetahuan.
2)   perilaku individu. Misalnya seorang manajer mungkin saja mengetahui dan mengerti bahwa keperawatan primer jauh lebih baik dibandingkan beberapa model asuhan keperawatan lainnya, tetapi tetap tidak menerapkannya dalam perilakunya karena berbagai alasan, misalnya merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut.
3)   Perilaku kelompok merupakan tahap yang paling sulit untuk diubah karena melibatkan banyak orang . Disamping kita harus merubah banyak orang, kita juga harus mencoba mengubah kebiasaan adat istiadat, dan tradisi juga sangat sulit.
4)   Dari sikap yang mungkin muncul maka perubahan bisa kita tinjau dari dua sudut pandang yaitu perubahan partisipatif dan perubahan yang diarahkan. Perubahan Partisipatif akan terjadi bila perubahan berlanjut dari masalah pengetahuan ke perilaku kelompok. Pertama-tama anak buah diberikan pengetahuan, dengan maksud mereka akan mengembangkan sikap positif pada subjek. Karena penelitian menduga bahwa orang berperilaku berdasarkan sikap-sikap mereka maka seorang pemimpin akan menginginkan bahwa hal ini memang benar. Sesudah berprilaku dalam cara tertentu maka orang-orang ini menjadi guru dan karenanya mempengaruhi orang lain untuk berperilaku sesuai dengan yang diharapkan.
-       Respon Terhadap Suatu Perubahan
Faktor-faktor yang akan merangsang penolakan terhadap perubahan misalnya, kebiasaan, kepuasan akan diri sendiri dan ketakutan yang melibatkan ego. Orang-orang biasanya takut berubah karena kurangnya pengetahuan, prasangka yang dihubungkan dengan pengalaman dan paparan dengan orang lain serta ketakutan pada perlunya usaha yang lebih besar untuk menghadapi kesulitan yang lebih tinggi. Beberapa contoh ketakutan yang mungkin dialami seseorang dalam suatu perubahan antara lain :
1)    Takut karena tidak tahu
2)    Takut karena kehilangan kemampuan, keterampilan atau keahlian yang terkait dengan pekerjaannya
3)     Takut karena kehilangan kepercayaan / kedudukan
4)    Takut karena kehilangan imbalan
5)    Takut karena kehilangan penghargaan,dukungan dan perhatian orang lain.
-        Perawat Sebagai Pembaharu
Menurut Oslan dalam Kozier (1991) mengatakan perawat sebagai pembaharu harus menyadari kebutuhan sosial, berorientasi pada masyarakat dan kompeten dalam hubungan interpersonal. Pembaharu juga perlu memahami sikap dan perilakunya, bagaimana ia menjalin kerjasama dengan orang lain dan bagaimana perasaannya terhadap perubahan tersebut.Maukseh dan Miller dalam Kozier menyebutkan karakteristik seorang pembaharu adalah :
1)    Dapat mengatasi/ menaggung resiko. Hal ini berhubungan dengan dampak yang mungkin muncul akibat perubahan.
2)    Komitmen akan keberhasilan perubahan. Pembaharu harus menyadari dan menilai kefektifannya
3)    Mempunyai pengetahuan yang luas tentang keperawatan termasuk hasil-hasil riset dan data-data ilmu dasar, menguasai praktik keperawatan dan mempunyai keterampilan teknik dan interpersonal.
Fungsi pembaharu sangat penting dalam memfasilitasi komunikasi yang efektif dalam proses berubah, agar efektif seorang pembaharu sebaiknya :
1)    Mudah ditemui oleh mereka yang terlibat dalam proses berubah
2)    Dapat diercaya oleh mereka yang terlibat
3)     Jujur dan tegas dalam menetapkan tujuan, perencanaan dan dalam mengatasi masalah
4)    Selalu melihat tujuan dengan jelas
5)    Menetapkan tanggung jawab dari mereka yang terlibat
6)    Menjadi pendengar yang baik
g. Konsep holistik care : caring, holisme, humamise.
- Konsep Holistic Care
Holistic merupakan salah satu konsep yang mendasari tindakan keperawatan yang meliputi dimensi fisiologis, psikologis, sosiokultural, dan spiritual. Holistik terkait dengan kesejahteraan (Wellnes).
Untuk mencapai kesejahteraan terdapat lima dimensi yang saling mempengaruhi
yaitu:
1)    fisik,
2)    emosional,
3)    intelektual,
4)    sosial.
5)    dan spiritual.
Untuk mencapai kesejahteraan tersebut, salah satu aspek yang harus dimiliki individu adalah kemampuan beradaptasi terhadap stimulus.
-       Perbedaan Konsep Holistic Care Dengan Konsep Ilmiah Lainnya
Pandangan medis ilmiah hanya melihat hal-hal fisik saja dalam penanganan penyakit ataupun pencegahannya.  Namun pandangan holistik berpendapat bahwa semua aspek fisik, mental, emosional, dan spiritual berpengaruh terhadap pemeliharaan kesehatan, datangnya penyakit, maupun dalam upaya penyembuhan dari sakit.
-       Konsep Caring
Sebuah perilaku perawatan yang didasari dari beberapa aspek diantaranya :
1)  Human altruistic (mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan),
2)  Menanamkan kepercayaan-harapan,
3)  Mengembangkan kepekaan terhadap diri sendiri dan orang lain,
4)  Pengembangan bantuan dan hubungan saling percaya,
5)  Meningkatkan dan menerima ungkapan perasaan yang positif dan negatif,
6)  Sistematis dalam metode pemecahan masalah
7)  Pengembangan pendidikan dan pengetahuan interpersonal,
8) Meningkatkan dukungan, perlindungan mental, fisik, sosial budaya dan lingkungan spiritual
9) Senang membantu kebutuhan manusia,
10) Menghargai kekuatan eksistensial-phenomenologikal.
-   Konsep Holisme
Holisme adalah filsafat yang menganggap manusia sebagai suatu kesatuan yang berfungsi dan bukan gabungan dari beberapa system Pikiran dan tubuh bukan merupakan bagian yang terpisah, tetapi merupakan satu bagian yang utuh, dan apabila terjadi sesuatu pada salah satunya maka akan berpengaruh pada keseluruhan.
-       Konsep Humanisme
Humanisme adalah suatu gerakan filosofis yang berfokus pada alam dan hakikat manusia sebagai individu. Teori humanistik percaya bahwa manusia memiliki potensi diri untuk sehat dan kreatif, jika kita mau menerima tanggung jawab bagi kehidupan diri kita sendiri. Humanisme merupakan salah satu gerakan filosofis utama yang melandasi teori-teori mutakhir mengenai praktik keperawatan
Pelayanan Keperawatan.

2 komentar: